Selasa, 27 September 2016
Kisah Bunga Mawar
Suatu ketika, ada seseorang pemuda yang mempunyai sebuah bibit mawar. Ia ingin sekali menanam mawar itu di kebun belakang rumahnya. Pupuk dan sekop kecil telah disiapkan. Bergegas, disiapkannya pula pot kecil tempat mawar itu akan tumbuh berkembang. Dipilihnya pot yang terbaik, dan diletakkan pot itu di sudut yang cukup mendapat sinar matahari. Ia berharap, bibit ini dapat tumbuh dengan sempurna.
Disiraminya bibit mawar itu setiap hari. Dengan tekun, dirawatnya pohon itu. Tak lupa, jika ada rumput yang menganggu, segera disianginya agar terhindar dari kekurangan makanan. Beberapa waktu kemudian, mulailah tumbuh kuncup bunga itu. Kelopaknya tampak mulai merekah, walau warnanya belum terlihat sempurna. Pemuda ini pun senang, kerja kerasnya mulai membuahkan hasil. Diselidikinya bunga itu dengan hati-hati. Ia tampak heran, sebab tumbuh pula duri-duri kecil yang menutupi tangkai-tangkainya. Ia menyesalkan mengapa duri-duri tajam itu muncul bersamaan dengan merekahnya bunga yang indah ini. Tentu, duri-duri itu akan menganggu keindahan mawar-mawar miliknya.
Sang pemuda tampak bergumam dalam hati, “Mengapa dari bunga seindah ini, tumbuh banyak sekali duri yang tajam? Tentu hal ini akan menyulitkanku untuk merawatnya nanti. Setiap kali kurapihkan, selalu saja tanganku terluka. Selalu saja ada ada bagian dari kulitku yang tergores. Ah pekerjaan ini hanya membuatku sakit. Aku tak akan membiarkan tanganku berdarah karena duri-duri penganggu ini.”
Lama kelamaan, pemuda ini tampak enggan untuk memperhatikan mawar miliknya. Ia mulai tak peduli. Mawar itu tak pernah disirami lagi setiap pagi dan petang. Dibiarkannya rumput-rumput yang menganggu pertumbuhan mawar itu. Kelopaknya yang dahulu mulai merekah, kini tampak merona sayu. Daun-daun yang tumbuh di setiap tangkai pun mulai jatuh satu-persatu. Akhirnya, sebelum berkembang dengan sempurna, bunga itu pun meranggas dan layu.
Jiwa manusia, adalah juga seperti kisah tadi. Di dalam setiap jiwa, selalu ada ‘mawar’ yang tertanam. Tuhan yang menitipkannya kepada kita untuk dirawat. Tuhan lah yang meletakkan kemuliaan itu di setiap kalbu kita. Layaknya taman-taman berbunga, sesungguhnya di dalam jiwa kita, juga ada tunas mawar dan duri yang akan merekah.
Namun sayang, banyak dari kita yang hanya melihat “duri” yang tumbuh. Banyak dari kita yang hanya melihat sisi buruk dari kita yang akan berkembang. Kita sering menolak keberadaan kita sendiri. Kita kerap kecewa dengan diri kita dan tak mau menerimanya. Kita berpikir bahwa hanya hal-hal yang melukai yang akan tumbuh dari kita. Kita menolak untuk menyirami” hal-hal baik yang sebenarnya telah ada. Dan akhirnya, kita kembali kecewa, kita tak pernah memahami potensi yang kita miliki.
Banyak orang yang tak menyangka, mereka juga sebenarnya memiliki mawar yang indah di dalam jiwa. Banyak orang yang tak menyadari, adanya mawar itu. Kita, kerap disibukkan dengan duri-duri kelemahan diri dan onak-onak kepesimisan dalam hati ini. Orang lain lah yang kadang harus menunjukannya.
Jika kita bisa menemukan “mawar-mawar” indah yang tumbuh dalam jiwa itu, kita akan dapat mengabaikan duri-duri yang muncul. Kita, akan terpacu untuk membuatnya akan membuatnya merekah, dan terus merekah hingga berpuluh-puluh tunas baru akan muncul. Pada setiap tunas itu, akan berbuah tunas-tunas kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, yang akan memenuhi taman-taman jiwa kita. Kenikmatan yang terindah adalah saat kita berhasil untuk menunjukkan diri kita tentang mawar-mawar itu, dan mengabaikan duri-duri yang muncul.
Semerbak harumnya akan menghiasi hari-hari kita. Aroma keindahan yang ditawarkannya, adalah layaknya ketenangan air telaga yang menenangkan keruwetan hati. Mari, kita temukan “mawar-mawar” ketenangan, kebahagiaan, kedamaian itu dalam jiwa-jiwa kita. Mungkin, ya, mungkin, kita akan juga berjumpa dengan onak dan duri, tapi janganlah itu membuat kita berputus asa. Mungkin, tangan-tangan kita akan tergores dan terluka, tapi janganlah itu membuat kita bersedih nestapa.
Biarkan mawar-mawar indah itu merekah dalam hatimu. Biarkan kelopaknya memancarkan cahaya kemuliaan-Nya. Biarkan tangkai-tangkainya memegang teguh harapan dan impianmu. Biarkan putik-putik yang dikandungnya menjadi bibit dan benih kebahagiaan baru bagimu. Sebarkan tunas-tunas itu kepada setiap orang yang kita temui, dan biarkan mereka juga menemukan keindahan mawar-mawar lain dalam jiwa mereka. Sampaikan salam-salam itu, agar kita dapat menuai bibit-bibit mawar cinta itu kepada setiap orang, dan menumbuh-kembangkannya di dalam taman-taman hati kita.
Selasa, 20 September 2016
Sang Kura-Kura dan Kalajengking
Di suatu kawasan, tinggal seekor kura- kura dengan kalajengking. Suatu hari, kawasan tersebut dilanda bencana dan semua tumbuhan yang hidup di kawasan tersebut mati. Semua hewan yang masih hidup berpindah dari kawasan tersebut ke tempat lain, yang masih bertahan hanyalah si kura-kura dan kalajengking.
Berkatalah si kalajengking,”Kura-kura tempat ini sekarang menjadi sepi bisakah kamu membawaku pindah dari tempat ini karena aku tidak bisa menyebrangi sungai yang memisahkan tempat kita dengan tempat lain? Kamu tau aku tidak bisa berenang, bukan?’.
”Kamu jangan menipuku. Aku tahu kebiasaanmu menyengat siapa saja. Kalau aku membawamu menyebrangi sungai ini di punggungku, pasti nanti kamu akan menyengat kepalaku” kata si kura-kura.
”Aku tidak sebodoh itu, wahai temanku. Kalau aku menyengatmu, kita berdua akan tenggelam dan mati di dasar sungai ini.”
Kura-kura berkata dalam hatinya,’betul juga perkataanya’. Kalau dia menyengatku, bukan aku saja yang akan mati, itu pasti tidak akan terjadi. Karena itu sang kura-kura mengatakan, ”Baiklah, kamu naik di belakangku dan ingat, kamu jangan coba-coba menyengatku, nanti kita berdua bakal mati tenggelam.”
Kalajengking pun naik ke tubuh si kura-kura dan bersama-sama menyebrangi sungai tersebut. Karena tabiat atau kebiasaan kalajengking mnyengat, di sepanjang perjalanan tersebut hatinya semakin tidak tahan lagi untuk menyengat kepala si kura-kura, tapi dia ingat kalau dia menyengat, mereka akan mati. Namun karena dia tidak bisa menahan kebiasaanya, disengatlah kepala si kura-kura dan tenggelamla keduanya di dasar sungai. Sebelum ajal menjemput mereka, berkatalah si kura-kura, ”Dasar kalajengking, bukankah kamu suda berjanji untuk tidak menyengatku? Bukankah kamu tahu bahwa dengan kamu menyengatku, kita berdua akan mati, tetapi kenapa kamu menyengatku juga?”.
Dengan rasa sedih dan menyesal, kalajengking menjawab, ” Maafkanlah aku, wahai kura-kura temanku yang baik. Aku sudah menahan diri, tapi aku tidak bisa menahan kebiasaanku ini.”
Selasa, 13 September 2016
Angan – Angan Mat Jenin
Mat Jenin bekerja sebagai pemetik buah kelapa. Ia harus memanjat pohon kelapa untuk menghidupi dirinya. Suatu hari ia dipanggil oleh pemilik kelapa untuk memetikkan buah kelapanya. Tanpa menunda-nunda Mat Jenin pun mulai memanjat pohon kelapa tersebut. Saat memanjat, ia mulai berfikir bahwa sekalipun ia bekerja keras memetik sebanyak mungkin kelapa, sampai kapan pun ia akan terus hidup miskin. Maka ia mulai berangan–angan. ”Kalau saya menggunakan upah memetik buah kelapa ini sebagai modal untuk membeli anak-anak ayam, maka saya bisa mempunyai banyak ayam”. Kemudian ia berhenti di tengah-tengah pohon dan melanjutkan angan-angannya. ”Kalau ayamku sudah banyak, aku akan menjualnya dan membeli sepasang kambing. Kambing itu akan kupelihara baik-baik sampai berkembang biak”. Membayangkan itu ia tersenyum-senyum, memanjat lagi, sambil meneruskan angan-angannya. ”Kalau kambingku sudah banyak, akan kujual dan aku belikan sapi. Sapi-sapi itu akan kuberi makan rumput yang baik sehingga bisa berkembang biak dengan baik dan cepat. Kalau sapiku sudah banyak dan aku jual, aku bisa membeli rumah besar, membeli mobil, tidak perlu memanjat pohon kelapa lagi karena sudah punya banyak uang. Lalu aku akan meminang putri raja yang cantik dan raja tidak akan menolak pinanganku, sebab aku orang kaya”. Saat mencapai punsak pohon kelapa, Mat Jenin membayangkan dirinya telah menjadi menantu raja dan sedang bersenda gurau dengan istrinya pada malam pertama mereka. Ia membayangkan istrinya dengan malu-malu menggelitiki Mat Jenin. Ia merasakan gelinya sambil tersenyum-senyum penuh kebahagiaan. Dia seoalah lupa bahwa sebenarnya dia sedang berada di puncak pohon kelapa. Kalau pegangannya lepas, dia pasti jatuh dan meninggal, membawa serta angan-anganya.
Apakah itu berarti Mat Jenin salah?. Berangan-angan seperti itu tidaklah salah. Mat Jenin justru termotivasi untuk memanjat kelapa dengan senang hati, hatinya terhibur karena dia seolah-olah keluar dari kehidupan miskinnya. Sayangnya Mat Jenin tidak pernah melakukan apa yang sudah diangan-angankanya itu. Dia tidak pernah menggunakan uangnya untuk membeli ayam, apalagi kambing dan sapi. Uang yang ia dapat selalu habis dipakai untuk ini dan itu. Boleh-boleh saja kita berhkhayal seperti itu, tapi khayalan itu harus dijadikan impian, dibuatkan penetapan tujuan yang bisa memuat langkah-langkah konkrit untuk mewujudkanya
Langganan:
Postingan (Atom)