Selasa, 13 September 2016
Angan – Angan Mat Jenin
Mat Jenin bekerja sebagai pemetik buah kelapa. Ia harus memanjat pohon kelapa untuk menghidupi dirinya. Suatu hari ia dipanggil oleh pemilik kelapa untuk memetikkan buah kelapanya. Tanpa menunda-nunda Mat Jenin pun mulai memanjat pohon kelapa tersebut. Saat memanjat, ia mulai berfikir bahwa sekalipun ia bekerja keras memetik sebanyak mungkin kelapa, sampai kapan pun ia akan terus hidup miskin. Maka ia mulai berangan–angan. ”Kalau saya menggunakan upah memetik buah kelapa ini sebagai modal untuk membeli anak-anak ayam, maka saya bisa mempunyai banyak ayam”. Kemudian ia berhenti di tengah-tengah pohon dan melanjutkan angan-angannya. ”Kalau ayamku sudah banyak, aku akan menjualnya dan membeli sepasang kambing. Kambing itu akan kupelihara baik-baik sampai berkembang biak”. Membayangkan itu ia tersenyum-senyum, memanjat lagi, sambil meneruskan angan-angannya. ”Kalau kambingku sudah banyak, akan kujual dan aku belikan sapi. Sapi-sapi itu akan kuberi makan rumput yang baik sehingga bisa berkembang biak dengan baik dan cepat. Kalau sapiku sudah banyak dan aku jual, aku bisa membeli rumah besar, membeli mobil, tidak perlu memanjat pohon kelapa lagi karena sudah punya banyak uang. Lalu aku akan meminang putri raja yang cantik dan raja tidak akan menolak pinanganku, sebab aku orang kaya”. Saat mencapai punsak pohon kelapa, Mat Jenin membayangkan dirinya telah menjadi menantu raja dan sedang bersenda gurau dengan istrinya pada malam pertama mereka. Ia membayangkan istrinya dengan malu-malu menggelitiki Mat Jenin. Ia merasakan gelinya sambil tersenyum-senyum penuh kebahagiaan. Dia seoalah lupa bahwa sebenarnya dia sedang berada di puncak pohon kelapa. Kalau pegangannya lepas, dia pasti jatuh dan meninggal, membawa serta angan-anganya.
Apakah itu berarti Mat Jenin salah?. Berangan-angan seperti itu tidaklah salah. Mat Jenin justru termotivasi untuk memanjat kelapa dengan senang hati, hatinya terhibur karena dia seolah-olah keluar dari kehidupan miskinnya. Sayangnya Mat Jenin tidak pernah melakukan apa yang sudah diangan-angankanya itu. Dia tidak pernah menggunakan uangnya untuk membeli ayam, apalagi kambing dan sapi. Uang yang ia dapat selalu habis dipakai untuk ini dan itu. Boleh-boleh saja kita berhkhayal seperti itu, tapi khayalan itu harus dijadikan impian, dibuatkan penetapan tujuan yang bisa memuat langkah-langkah konkrit untuk mewujudkanya
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar